JAKARTA,- Masa persidangan pertama tahun sidang 2009-2010, Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, aparatur negara, agraria, dan otonomi daerah, Rabu (21/10), menetapkan pimpinan alat kelengkapan DPR RI.
SIDANG PERDANA KOMISI II DPR RI MENETAPKAN PIMPINAN ALAT KELENGKAPAN
Sekilas Pandang Rumah Aspirasi
Berbeda dengan "constituent center" yang ada selama ini, Rumah Aspirasi tidak hanya menjadi ruang tatap muka selama masa reses DPR RI. Rumah Aspirasi Budiman adalah lembaga visioner dengan misi dan agenda pemberdayaan rakyat yang dilaksanakan secara terencana dan terukur. Untuk membentuk Rumah Aspirasi ini, Budiman telah merekrut para staf profesional yang dinilai memiliki banyak pengalaman dalam bidangnya. Mereka adalah para eks aktivis gerakan yang memiliki kesamaan garis pemikiran dengan Budiman.
Budiman Sujatmiko Dirikan Rumah Aspirasi
Minggu, 4 Oktober 2009 | 17:50 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Madina Nusrat
BANYUMAS, KOMPAS.com - Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sujatmiko mendirikan Rumah Aspirasi Budiman Sujatmiko, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Minggu (4/10). Rumah itu akan menjadi rumah rakyat khususnya di wilayah Kabupaten Banyumas dan Cilacap dalam menyampaikan aspirasinya kepada Budiman Sujatmiko sebagai anggota DPR RI terpilih dari daerah pemilihan VIII yang meliputi kedua kabupaten tersebut.
Budiman mengatakan, rumah aspirasi itu merupakan caranya menjawab seluruh janji-janjinya dalam kampanye pemilihan anggota legislatif yang lalu kepada masyarakat Banyumas dan Cilacap. "Saya letih dan risau, apakah lima tahun mendatang rakyat yang saya wakili, hidupnya akan lebih baik dibandingkan saat saya mengenal mereka semasa kampanye," katanya.
Mewakili Rakyat
Berikut adalah versi asli dari tulisan Budiman yang dimuat di Kompas hari ini:
Dalam beberapa minggu ini saya mendapatkan ucapan ‘selamat’ atas rencana pelantikan saya sebagai anggota DPR dari konstituen saya, petani-petani Banyumas dan Cilacap. Mereka bukanlah orang baru bagi saya, begitu juga sebaliknya. Mereka adalah orang yang pertama kali saya jumpai sekitar 18 tahun silam sebagai petani-petani sederhana, yang diringkus kemiskinan dan konflik pertanahan yang sudah menahun. 18 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak muda berusia 21 tahun yang bersama mereka berikhtiar membangun politik demokrasi dan kesejahteraan dari akar rumput. Mereka mengucapkan ’selamat’ karena hari ini saya akan resmi melanjutkan perjuangan dari dalam institusi negara.
Saya tersentuh keharuan saat mereka menganggap saya sudah ’berhasil,’ karena saya justru menganggap bahwa apa yang kami perjuangkan sekitar 18 tahun lalu belum lah banyak memperbaiki nasib mereka.











