Berikut adalah versi asli dari tulisan Budiman yang dimuat di Kompas hari ini:
Dalam beberapa minggu ini saya mendapatkan ucapan ‘selamat’ atas rencana pelantikan saya sebagai anggota DPR dari konstituen saya, petani-petani Banyumas dan Cilacap. Mereka bukanlah orang baru bagi saya, begitu juga sebaliknya. Mereka adalah orang yang pertama kali saya jumpai sekitar 18 tahun silam sebagai petani-petani sederhana, yang diringkus kemiskinan dan konflik pertanahan yang sudah menahun. 18 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak muda berusia 21 tahun yang bersama mereka berikhtiar membangun politik demokrasi dan kesejahteraan dari akar rumput. Mereka mengucapkan ’selamat’ karena hari ini saya akan resmi melanjutkan perjuangan dari dalam institusi negara.
Saya tersentuh keharuan saat mereka menganggap saya sudah ’berhasil,’ karena saya justru menganggap bahwa apa yang kami perjuangkan sekitar 18 tahun lalu belum lah banyak memperbaiki nasib mereka.
Saya juga yakin, bahwa semua rekan saya yang akan dilantik hari ini memperoleh ucapan ’selamat’ serupa dari orang-orang. Tentu para wakil rakyat ini adalah mereka yang berhasil mengoptimalkan hubungan-hubungan dengan konstituen mereka sehingga memenangkan jumlah suara yang memadai dalam proses pertarungan politik pemilu.
Di sini saya sedang membicarakan prosedur dan strategi politik, dengan kedalaman dan isi poitik yang berbeda dari masing-masing kasus pemenangan pemilunya. Karena rupanya pertarungan politik sehari-hari itu sering terlalu tergesa-gesa berjalan dan lupa mengurusi kedalaman isinya.
Meski begitu, bukan berarti dalam proses yang bergegas ini, kedalaman dan isi tak bisa disertakan. Substansi politik bisa ditemukan jika (dan hanya jika) panggilan berpolitik itu berasal dari sebuah proses yang panjang. Jikapun saudara menemukan kasus proses politik yang singkat, hampir bisa dipastikan itu berasal dari politik advertorial diri (pencitraan melalui iklan politik) maupun politik transaksional yang teramat mahal bagi orang kebanyakan.
Rasa dan Nalar Politik
Mewakili rakyat itu artinya menjalin beragam hubungan batin, fikiran, empatik dan (bahkan) fisik dengan yang diwakili. Walau demikian, mesti disadari bahwa suara-suara rakyat itu kerapkali bersifat spontan, sporadis, berserakan dan tidak sistematis. Maka penting diingat bahwa mewakili rakyat tidaklah semata-mata menjadi cerminan mentah atas semua itu, karena itu akan menjerumuskan kami pada popularitas sesaat. Para politisi mudah digoda oleh hal-hal seperti ini.
Pencarian popularitas sesaat hanya melahirkan produk legislasi yang mentah dan dangkal atas yang tampak di permukaan, tanpa menyelami konsekuensi-konsekuensinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai misal, jika di kalangan konstituen kami muncul arus kuat sektarianisme untuk memaksakan produk undang-undang yang mengancam hak-hak minoritas (baik suku, agama maupun status sosial lainnya), maka seorang wakil rakyat yang visioner tidak boleh begitu saja memperjuangkannya karena akan mengorbankan yang lebih besar, yaitu Pancasila dan Ke-Bineka Tunggal Ika-an kita. Pun misalnya di kalangan konstituen kami muncul tuntutan untuk melegalkan perjudian, kami tak bisa serta merta memperjuangkannya karena akan membangkrutkan moral masyarakat kita.
Karenanya seseorang yang mewakili rakyat diminta untuk menjadi tubuh yang cerdas dan reflektif atas harapan orang banyak.
Dari yang saya lihat, kualifikasi-kualifikasi di atas hanya bisa dipenuhi dalam proses politik ideologis maupun kultural melalui partai politik yang sehat, bukannya melalui proses advertorial diri semata maupun politik transaksional. Selain melalui partai, tentu ada jalur-jalur lain untuk menyehatkan representasi dan proses legislasi kita.
Sebagai anggota DPR, tentu saya menjadi wakil rakyat menurut konstitusi negara. Tapi ini tidak menghilangkan pengertian tentang wakil rakyat secara luas. Di sini saya sedang membicarakan keberadaan wakil rakyat yang hidup dan menghidupi keseharian rakyat.
Mereka bisa kita temukan dalam kegiatan di luar parlemen, seperti kalangan cendekiawan, agamawan, budayawan, jurnalis, pendidik, usahawan yang menerapkan prinsip good corporate governance, para aktivis akar rumput dan sebagainya yang fungsinya tidak kurang pentingnya dalam menyehatkan peradaban politik. Senantiasa berinteraksi dengan mereka adalah juga untuk menjaga agar proses ideologis dan kultural ini sebagai pengimbang politik transaksional.
Dengan demikian berpolitik akan menjadi gugusan tindakan oleh pribadi-pribadi yang sudah merasa cukup dengan keperluan-keperluan dirinya, agar politik semata-mata mengurusi keperluan orang banyak (res publica).
Tentu perasaan sudah cukup dengan keperluan pribadinya tidak lah berhubungan dengan seberapa banyak asset pribadi yang dimilikinya. Ini lebih merupakan kepatutan sikap.
Saya masih sering menjumpai politisi yang assetnya ’biasa-biasa’ saja namun merasa bahwa keperluan pribadinya tidak berlebihan sehingga dia bisa lapang memikirkan orang banyak.
Orang-orang tersebut merasa bahwa dengan lebih melayani kepentingan orang banyak, maka kebajikan publik (public virtue) akan berlaku adil sehingga memungkinkannya memenuhi keperluan pribadi tanpa mengambil yang bukan hak-nya. Namun contoh sebaliknya pun tidak sedikit saya lihat.
Komitmen
Hari ini saya bersama rekan-rekan saya dilantik secara resmi untuk mewakili saudara. Mari kita akui saja, saudara dan kebanyakan rakyat tidaklah berkepentingan bagaimana kami secara resmi mulai menjadi wakil saudara di parlemen. Yang menjadi kepentingan saudara adalah kesediaan kami untuk terus menerus diuji di hadapan altar mimpi dan harapan orang banyak, serta bagaimana kami mengakhirinya lima tahun ke depan.
Bagaimana perasaan saya hari ini? Terus terang, saya sekarang lebih dihantui perasaan jikalau orang-orang desa yang telah menjadikan saya sebagai wakil rakyat di DPR, tak akan lebih baik nasibnya lima tahun ke depan dibanding ketika saya pertama kali menyepakati perjuangan bersama mereka 18 tahun silam.
Mewakili Rakyat
Posted on 02 October 2009 at 9:38 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
















0 comment/s:
Post a Comment
Thanks for your comment. Comments in this blog are moderated. The administrator has the exclusive rights for accepting or rejecting all comments. Comments are welcome in English or Bahasa Indonesia.